
Ekonomi makin nggak ramah, tapi anak muda tetap berusaha bertahan. Dari kerja ganda, jualan online, sampai hidup super hemat semua dilakukan demi satu hal: bertahan hidup dengan martabat.
Inilah potret Generasi Bertahan anak muda yang mungkin nggak kaya, tapi cerdas, adaptif, dan realistis menghadapi dunia yang terus berubah.
Di tengah ekonomi yang makin berat, anak muda Indonesia bukan sedang malas atau boros mereka sedang bertahan. Generasi ini menghadapi harga kebutuhan yang naik lebih cepat daripada pendapatan, tapi mereka menjawabnya dengan kreativitas: kerja ganda, side hustle, hidup minimalis, hingga memanfaatkan teknologi keuangan.
Survei menunjukkan mayoritas anak muda kini punya lebih dari satu sumber penghasilan dan mulai membangun sistem keuangan yang sederhana tapi teratur. Fokus mereka bukan menjadi kaya dalam semalam, tapi memastikan hidup tetap cukup, stabil, dan bermartabat
Menurut laporan World Bank (2025), tingkat ketimpangan ekonomi di Asia meningkat signifikan, dan generasi muda jadi kelompok paling terdampak. Harga rumah, pendidikan, dan kebutuhan dasar naik jauh lebih cepat dari pendapatan.
Namun, di tengah kondisi itu, muncul generasi baru yang mengandalkan kecerdikan bukan warisan. Mereka belajar bertahan lewat efisiensi, digital skill, dan kemampuan menciptakan peluang baru.
Dari hasil survei Populix (2025), 64% anak muda Indonesia kini punya lebih dari satu sumber penghasilan: kerja tetap, side hustle, atau jualan kecil. Bagi mereka, bertahan bukan soal kaya, tapi soal cukup.
Mereka belajar hidup minimalis, berbagi tempat tinggal, dan menggunakan aplikasi keuangan untuk tetap sadar akan posisi mereka. Inilah bukti bahwa adaptasi bukan pilihan, tapi naluri bertahan.
Generasi ini mungkin bukan generasi paling kaya, tapi mungkin generasi paling tangguh. Mereka belajar bahwa bertahan juga bentuk kemenangan.
Mulailah perjalanan finansialmu dengan cara yang sederhana tapi pasti bersama Finku yang pastinya juga bantu kamu gak cuma menghitung uang, tapi juga menenangkan hidup



