
Dulu, punya rumah atau mobil dianggap simbol sukses. Sekarang, banyak anak muda justru bangga bilang: “aku nggak punya, aku nyewa.” Fenomena ini dikenal sebagai renting culture, dan ini bukan soal malas punya, tapi soal cara baru melihat hidup dan kebebasan.
Di era di mana harga properti naik jauh lebih cepat dari gaji, pilihan untuk menyewa bukan tanda menyerah tapi strategi bertahan.
Generasi muda kini semakin banyak memilih menyewa dibanding membeli aset, bukan sekadar mengikuti tren, melainkan sebagai respons rasional terhadap kondisi ekonomi dan gaya hidup saat ini. Fleksibilitas menjadi alasan utama karena mobilitas kerja yang tinggi, arah karier yang cepat berubah, dan preferensi hidup yang dinamis membuat mereka enggan terikat pada aset jangka panjang. Di sisi lain, harga aset seperti rumah, kendaraan, hingga barang elektronik terus meningkat, sementara pendapatan belum tumbuh sebanding, sehingga membeli sering kali terasa memberatkan secara finansial.
Menurut Bank Indonesia (2025), harga rumah naik rata-rata 5,8% per tahun, sementara gaji rata-rata hanya tumbuh 2,3%. Ketimpangan ini membuat generasi muda sulit masuk pasar properti.
Selain itu, perubahan gaya hidup kerja remote, mobilitas tinggi, dan kebutuhan fleksibilitas membuat kepemilikan terasa seperti beban. Menyewa dianggap memberi kebebasan memilih tanpa terikat jangka panjang.
Menyewa boleh, asal tidak jadi alasan untuk tidak punya arah keuangan.
Menjadi generasi sewa bukan tanda gagal, tapi tanda adaptif. Kamu hanya perlu pastikan kebebasan itu tetap punya arah. Dengan Finku, kamu bisa tetap fleksibel tanpa kehilangan kendali. Karena finansial sehat bukan tentang apa yang kamu punya, tapi seberapa baik kamu mengelolanya.



